Saat saya datang ke Situ Cangkuang, para pria sedang bersiap untuk melaksanakan shalat Jumat. Suasana sepi. Para pengayuh rakit di situ itu pun tak ada yang muncul. Beberapa jam kemudian, setelah shalat Jumat, barulah satu per satu dari mereka muncul dan menawarkan jasa untuk mengangkut wisatawan ke Kampung Pulo yang berada di tengah-tengah Situ Cangkuang. Tak ada kesan memburu-buru pengunjung, semua tampak santai dan tenang.
Sekitar 20 meter dari Kampung Pulo ini, menanjak sedikit ke puncak bukit, terletak sebuah candi megah, Candi Cangkuang.
Jika wisatawan datang di hari Rabu keadaan seperti ini akan berulang, bahkan mungkin lebih sepi, karena penduduk Kampung Pulo menghentikan segala kegiatan mereka, baik berjualan barang-barang kenangan, bertani, atau pun mengayuh rakit.
Kali ini, bukan karena mereka menjalankan ritual sebagai umat muslim, melainkan karena adat mereka mengharuskan hal itu. Adat ini tidak datang dengan sendirinya, tetapi hasil interaksi antara keturunan warga Kampung Pulo sebagai keturunan sah yang mengawasi dan memelihara Candi Cangkuang. Kebiasaan warga Kampung Pulo untuk menghentikan kegiatan di hari Rabu ini terbawa oleh adat leluhur yang telah membaurkan kebiasaan ini dari ajaran agama Hindu.
Candi Cangkuang memang unik. Candi ini sebenarnya adalah bukti kedigjayaan masyarakat Hindu di abad VII Masehi. Namun, para penjaganya adalah keturunan Embah Dalam Arif Muhammad yang sekarang menetap di sekitar candi. Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1966, dipugar pada tahun 1974, dan selesai pada 1976. Kemudian candi ini ditetapkan menjadi cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.
Makam Embah Dalam Arif Muhammad terletak mencolok di sebelah candi, pemisahnya hanyalah pagar besi yang sudah mulai berkarat, mengelilingi pusara sang tokoh legenda ini. Bagi warga Kampung Pulo, Arif Muhammad adalah nenek moyang mereka.
Arif Muhammad adalah salah satu pemimpin pasukan Keraton Mataram yang berniat menyerbu ke Batavia. Karena mengalami kekalahan, Arif Muhammad tidak kembali ke Mataram, tetapi membuat bendungan sehingga terbentuk situ dan semacam delta di tengahnya.
Kemudian bersama pasukannya, dia menetap di sana. Warga Kampung Pulo yang ada saat ini adalah keturunan keenam dari Arif Muhammad. Saat itu, agama Hindu telah bercokol, terjadilah interaksi Islam-Hindu.
Keaslian lingkungan Kampung Pulo dipertahankan sampai saat ini. Rumah dan masjid tidak berubah baik bentuk maupun jumlahnya.
Pemda cukup arif menyikapi ini. Sebuah papan besar bertulis “Kompleks Rumah Adat Kampung Pulo” tertancap kuat di bagian depan kampung. Setidaknya, pengunjung telah diminta untuk menghargai keberadaan kampung ini dengan tidak mengganggu keasrian dan kebersihan kampung.
Situ Cangkuang menawarkan keindahan yang klasik. Di tengah situ terdapat pulau tempat warga Kampung Pulo tinggal dan Candi Cangkuang berdiri tegak di perbukitan. Pada latar belakang pulau, ada Gunung Haruman berwarna hijau kebiruan. Sisi sebelah kanan pulau terbentang persawahan.
Para nelayan juga mencari nafkah di antara warna hijau air situ, melempar jala di kesunyian. Sementara itu, rakit berjalan pelan membawa hilir-mudik para wisatawan dari dan ke pulau.
Lokasi situ yang berada di Kecamatan Leles berjarak 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Fasilitas toilet umum terdapat di dalam kawasan. Sebuah museum berisi benda-benda keramat terdapat di depan candi, namun kurang terawat. Ongkos untuk menyeberang ke pulau Cangkuang adalah Rp 3.000 per orang, pulang-pergi.
Lokasi Situ Cangkuang ini bisa dicapai dengan naik kendaraan umum dari Bandung-Garut, berbiaya sekitar Rp 8.000. Dari Garut menuju Kecamatan Leles terdapat angkutan umum. Jalan menuju Candi Cangkuang dari jalan raya berjarak 3 km dengan jalan beraspal dan mulus. Jika kita berjalan kaki, jarak tempuh sekitar 30 menit. Jika kita memilih naik andong, biaya sekitar Rp 3.000 per orang harus kita persiapkan.
